‘Tubuh saya gemetar karena stres’ – Tekanan psikologis akibat perang di Iran

Meski sebagian aktivitas sehari-hari telah kembali secara bertahap di kota-kota di Iran, termasuk Teheran, unggahan sejumlah warganet Iran di media sosial masih menggambarkan pengalaman yang dicecap sepanjang beberapa pekan lalu.

Advertisements

Narasinya bercerita seputar pengalaman personal mereka yang meliputi: upaya melanjutkan kehidupan, kelelahan mental, tekanan ekonomi, kecemasan akibat perang, hingga pembatasan internet.

Dalam berbagai unggahan yang beredar, muncul perdebatan tentang bagaimana menyikapi situasi.

Ada beberapa pengguna yang melontarkan kritik terhadap orang-orang yang mulai memperlihatkannya melakukan kegiatan sehari-hari yang sederhana, seperti berbelanja pakaian atau pergi ke kafe. Menurut para pengkritik, aktivitas sederhana warga itu dianggap tidak mempedulikan kondisi yang ada saat ini.

Sebaliknya, ada kelompok lain yang justru membela karena dinilai kegiatan keseharian itu sebagai hak untuk melanjutkan hidup.

Advertisements

Salah satu warganet kemudian menulis bahwa dirinya “menangis beberapa kali sejak semalam sampai sekarang”, tapi ia tetap mungkin “mengenakan pakaian terbaik dan pergi ke suatu tempat bersama teman-teman”. Baginya, hal semacam itu tidak seharusnya diperdebatkan.

Pengguna lain juga berkomentar merujuk pada unggahan tentang pertandingan sepak bola. Ia menulis: “Otak kita juga butuh jeda untuk memikirkan hal-hal lain. Jadi, jangan terus terpaku.”

Warganet lain juga menulis: “Tidak aneh. Otak kita juga butuh sesaat mengalihkan perhatian ke hal lain agar tidak terpuruk, hidup kita mungkin akan seperti ini untuk sementara waktu.”

Baca juga:

  • Warga Iran lelah dengan ekonomi memburuk dan bayang-bayang perang
  • Kerusakan psikis anak-anak di Iran akibat perang – ‘Ketakutan tiada akhir’
  • Selat Hormuz: Kisah ABK terapung 24 jam di laut setelah rudal menghantam kapal

Dalam sejumlah unggahan, berbagai cara untuk mengatasi kecemasan juga disebutkan. Salah satunya dituliskan seorang pengguna: “Kecemasan saya kembali melonjak sehingga saya bangun pukul enam pagi untuk membersihkan rumah.”

Adapun tema persoalan utama yang kerap terlihat adalah terkait internet. Warga terus menulis mengenai pembatasan, biaya yang tinggi, dan imbasnya pada kehidupan sehari-hari.

Contohnya, seperti yang diungkapkan pengguna berikut ini: “Saya hampir tidak mampu membeli satu gigabyte yang harus membayar satu juta toman itu.”

Pengguna lain yang cemas kuota internetnya lekas habis berkata: “Saya terus-menerus khawatir dua gigabyte internet yang harganya jutaan ini akan habis dan membuat saya kembali ke kegelapan.”

Di tengah ragam ketakutan tersebut, banyak pengguna berulang kali menekankan internet sebagai hak publik.

Dalam satu unggahan tertulis: “Internet gratis adalah hak universal; bukan hak istimewa yang dijual.”

Lalu, pengguna lain menulis: ‘Tidak seharusnya mengemis hak. Internet adalah internet, sederhana, tanpa tambahan apa pun.’

Pada aneka unggahan itu, istilah ‘Internet Pro’ kerap disinggung. Istilah ini merujuk pada bentuk akses internet khusus dan berjenjang yang membuat pengguna tertentu -seperti pengusaha hingga akademisi- bisa mengakses internet yang minim pembatasan. Namun tentu saja, ada biaya yang harus dibayarkan atau memenuhi syarat kuota tertentu.

Keberadaan ‘Internet Pro’ ini kemudian memantik sebutan ‘internet berbasis kelas’. Sebagian pengguna pun menyoroti situasi ini sebagai bentuk ketimpangan akses dengan berkata: “Internet Pro berarti mengelompokkan sebuah hak publik menjadi kelas-kelas.”

Ada juga yang berpendapat pemberian akses berbeda kepada kelompok tertentu menyebabkan “kesenjangan sosial dan kelas yang lebih besar”. Unggahanlain menyinggung perbedaan antara mereka yang memiliki akses internet bebas dan yang tidak, serta menyerukan agar “menjadi suara bagi orang-orang yang sudah lebih dari seribu jam tidak memiliki internet”.

Banyak unggahan yang bercerita terkait dampak langsung kondisi ini dan persoalan internet terhadap pekerjaan dan penghidupan mereka. Salah satunya, penuturan tentang terhentinya aktivitas ekonomi, mulai dari usaha kecil hingga pekerjaan yang bergantung pada internet.

Merujuk pada kondisi sebuah kafe, warganet menulis pemiliknya tampak “sangat putus asa” dan berkata bahwa ia “berdiri di sini seperti lilin, bertahan pada sehelai rambut”.

Unggahan lain menyebut terhentinya penjualan produk perempuan di berbagai wilayah dan kelanjutan situasi ini dapat memengaruhi “kehidupan dan masa depan”.

Dalam sejumlah kasus, terdapat juga yang menulis mengenai nasib mereka atau kerabatnya yang kehilangan pekerjaan, seperti berikut: “Saya dan seluruh keluarga besar kini menganggur karena pabrik baja dan petrokimia diserang”.

Kenaikan harga juga menjadi hal yang terus disuarakan. Sejumlah orang menuliskan secara rinci biaya kebutuhan sehari-hari dan menggarisbawahinya sebagai tanda tekanan hidup. Dari yang mencantumkan daftar harga dari roti, keju, obat-obatan, hingga tren kenaikan harga telur dalam beberapa bulan terakhir.

Tanda-tanda tekanan psikologis juga tampak dalam sebagian unggahan. Salah satu pengguna menulis: “Seluruh tubuh saya gemetar karena stres”.

Sementara itu, pengguna lain berbagi pengalaman terkait perang dan dampaknya, termasuk ketakutan terhadap suara mendadak atau kekhawatiran akan terulangnya konflik.

Bahkan ada yang bercerita saat mendengar suara guntur, ia khawatir “jangan-jangan itu pengeboman”. Pengguna lain menyebut apa yang digambarkan salah seorang warga itu sebagai “trauma kolektif akibat perang” dan menambahkan banyak orang masih keliru mengira suara biasa sebagai suara jet tempur atau ledakan.

Kekhawatiran perang kembali meletus juga masih mengemuka. Seorang ibu mengunggah “mungkin besok perang pecah lagi”, yang disambut pengguna lain tentang “ketakutan mematikan” yang belum terpisah dari pengalaman sebelumnya.

Beberapa pengguna mengomentari situasi ini dengan nada kritis, menganggapnya sebagai salah satu faktor yang memicu meningkatnya ketidakpuasan publik. Salah satu pesan berbunyi: “Apa yang dicapai dari situasi ini, selain kerugian ekonomi, ketidakpuasan publik, serta munculnya kesenjangan sosial dan pemisahan di antara masyarakat?”

Kumpulan unggahan ini menunjukkan masih banyak ketakutan dalam beberapa pekan terakhir dan diperkirakan masih akan berlanjut, meski sebagian mulai menampilkan upaya untuk melanjutkan hidup yang beriringan dengan kelelahan, kekhawatiran, dan rasa ketimpangan.

  • Kerusakan psikis anak-anak di Iran akibat perang – ‘Ketakutan tiada akhir’
  • Lebih dari 100 pakar hukum internasional menilai ada pelanggaran serius dalam perang AS-Israel dengan Iran
  • ‘Kami tenggelam semakin dalam’ – Warga Iran bersiap hadapi serangan AS saat tenggat Trump semakin dekat
  • ‘Saya belum tidur berhari-hari’ – Kisah warga Iran satu bulan setelah serangan AS-Israel dimulai
Advertisements