Sidang etik anggota Brimob penganiaya remaja hingga tewas di Tual digelar besok

Sidang Kode Etik terhadap Bripda MS, oknum anggota Brimob yang menganiaya Arianto Tawakal (14), siswa MTsN 1 Maluku hingga tewas, dipercepat dan dijadwalkan berlangsung pada Senin (23/2). Sidang itu akan dihadiri keluarga korban.

Advertisements

Kapolda Maluku, Irjen Pol Dadang Hartanto, menegaskan percepatan sidang bukan karena tekanan publik, melainkan bentuk tanggung jawab institusi atas dugaan kekerasan yang terjadi.

“Tidak ada tekanan. Kita menyadari bahwa tindakan kekerasan tersebut tidak bisa ditolerir. Sejak awal sudah saya arahkan seperti itu,” kata Dadang, Minggu (22/2) malam, usai buka puasa bersama di Gedung Plaza Presisi Tantui, Ambon.

Menurutnya, proses hukum harus berjalan tegas dan tanpa pandang bulu, meski pelaku merupakan anggota kepolisian.

“Ini adalah bentuk tanggung jawab hukum yang dibebankan kepada kita. Meskipun itu anggota kita, kita tidak diskriminatif dalam melakukan penindakan,” tegasnya.

Advertisements

Selain mempercepat proses hukum terhadap tersangka, Polda Maluku juga akan menangani perawatan medis Nasri Karim (15), kakak korban, yang mengalami patah tulang tangan kanan saat insiden terjadi.

Nasri dijadwalkan diterbangkan dari Tual pada Senin (23/2) siang dan akan menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Tantui, Ambon.

Arianto Tawakal meninggal dunia setelah diduga dihantam helm baja oleh Bripda MS saat melintas menggunakan sepeda motor di jalan raya sekitar RSUD Maren, Kota Tual, Kamis (19/2) pagi. Benturan keras di bagian wajah membuat korban kehilangan kendali dan terjatuh hingga bersimbah darah.

Arianto dan kakaknya saat itu dituduh sebagai bagian dari rombongan balap liar. Keduanya sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawa Arianto tak tertolong.

Insiden ini memicu kemarahan keluarga dan warga Kota Tual. Massa bahkan membawa jenazah korban ke Markas Brimob untuk menuntut pertanggungjawaban pelaku.

Bripda MS sempat membantah melakukan pemukulan. Namun, barang bukti di lokasi kejadian berupa helm baja dan atribut pelaku yang tercecer menguatkan dugaan keterlibatannya.

Advertisements