
Kejaksaan Agung menanggapi pengakuan videografer asal Karo, Amsal Christy Sitepu, yang mengaku diintimidasi jaksa menggunakan brownies. Amsal merupakan videografer yang didakwa melakukan korupsi mark up anggaran.
Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna, mengatakan pemberian brownies itu merupakan bagian dari program Jaksa Humanis yang dilakukan Kejaksaan Negeri Kabupaten Karo, bukan intimidasi.
“Kemarin itu terkait itu sudah ditanyakan. Rupanya kalau pengakuan dari [Pemberian brownies] itu bagian dari program Jaksa Humanis. Tidak hanya yang bersangkutan, [Terdakwa] yang lain pun ada [diberikan brownies]. Katanya gitu. Versi Kajarinya gitu ya,” ujar Anang kepada wartawan, Senin (30/3).
Anang menyebut, Kajari Kabupaten Karo juga telah membantah pemberian brownies tersebut merupakan bentuk intimidasi.
Adapun Amsal mengaku brownies yang dikirimkan juga disertai dengan pesan yang memintanya agar tetap mengikuti alur dan tidak membuat gaduh.
Terkait pesan ini, Anang belum bisa memastikannya. Dia meminta Amsal menuangkan apa yang dirasakannya dalam nota pembelaan atau pleidoi. Amsal juga disarankan melapor kepada Jamwas apabila ada tindakan yang dirasa tidak profesional dari jaksa.
“Buktikan aja dalam pleidoi. Dituangkan aja kalau merasa seperti itu. Itu hak kok,” ucap Anang.
“Tapi sepanjang ada buktinya aja ya. Itu aja. Kalau dilakukan tidak profesional, ada intimidasi secara baik itu dengan kekerasan atau apa, ibaratnya ada bukti ya silakan laporkan aja lah ke Jamwas, ke pengawasan,” sambungnya.
Pengakuan intimidasi itu sebelumnya disampaikan Amsal saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI. Di hadapan pimpinan dan anggota Komisi III, Amsal mengaku mengalami intimidasi selama proses hukum berjalan.
Ia menyebut pernah menerima kiriman brownies dari jaksa yang disertai pesan tertentu.
“Dalam proses hukum yang sedang saya jalani ini saya pernah mendapatkan intimidasi oleh jaksa secara langsung yang memberikan saya sekotak brownies cokelat, dengan pesan, dia ngomong langsung kepada saya di rutan ini, ‘udah ikutin aja alurnya. Enggak usah ribut-ribut, tutup konten-konten itu’,” ucap Amsal.
Amsal menegaskan tidak akan diam meski mendapat tekanan.
“Saya bilang tidak pimpinan. Cukup, tidak ada lagi anak muda yang dikriminalisasi di Indonesia. Biarkan, nggak ada lagi Amsal-Amsal lain dikriminalisasi,” ucap Amsal.
“Biar saya menjadi satu-satunya pekerja ekonomi kreatif yang dikriminalisasi dan diintimidasi. Biarkan saya yang terakhir pimpinan,” tambahnya.
Ia juga menyatakan akan terus melawan.