Teknowarta – – Iran melontarkan kritik tajam kepada Amerika Serikat (AS) atas gagalnya perundingan putaran kedua yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut pendekatan Washington menjadi penyebab utama mandeknya negosiasi, meski sebelumnya sempat menunjukkan kemajuan.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat tiba di Saint Petersburg, dalam rangkaian tur diplomatik cepat yang juga mencakup kunjungan ke Oman dan Pakistan sebagai mediator utama pada Senin (27/4) waktu setempat.
Dalam agenda terdekat, ia dijadwalkan bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk membahas perkembangan terbaru konflik dan peluang diplomasi lanjutan.
Islamabad sebelumnya menjadi tuan rumah satu-satunya putaran perundingan langsung antara Teheran dan Washington.
Kunjungan Araghchi sempat memicu harapan adanya negosiasi lanjutan, namun rencana itu batal setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan perjalanan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner.
“Pendekatan Amerika Serikat menyebabkan putaran perundingan sebelumnya, meskipun ada kemajuan, gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan,” kata Araghchi mengutip TRT World.
Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa pembatalan tersebut bukan berarti eskalasi konflik baru. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyatakan Iran masih memiliki opsi untuk melanjutkan dialog.
“Jika mereka ingin bernegosiasi, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami,” ujar Trump seperti diberitakan sebelumnya.
Meski jalur resmi buntu, upaya komunikasi tidak langsung masih berlangsung. Kantor berita Fars melaporkan Iran telah mengirim ‘pesan tertulis’ kepada Amerika melalui Pakistan, berisi garis merah Teheran, termasuk soal isu nuklir dan jalur strategis Selat Hormuz. Namun, pesan tersebut disebut bukan bagian dari negosiasi formal.
Laporan media AS, Axios, menyebut Iran juga telah mengajukan proposal baru yang berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade angkatan laut AS di wilayah tersebut.
Dalam skema itu, pembahasan isu nuklir akan ditunda ke tahap berikutnya. Kantor berita resmi Iran, IRNA, mengutip laporan tersebut tanpa membantahnya.
Sebagaimana diketahui, isu Selat Hormuz menjadi perhatian utama dalam tur diplomatik Araghchi, termasuk saat singgah di Oman, yang berbatasan langsung dengan jalur perairan strategis tersebut. Ia menegaskan pentingnya keamanan jalur itu bagi kepentingan global.
“Kelancaran pelayaran di Selat Hormuz adalah isu penting dunia. Sebagai dua negara pesisir, kami harus berdialog untuk menjaga kepentingan bersama,” ujar Araghchi.
Namun demikian, sikap berbeda datang dari Garda Revolusi Iran yang menegaskan tidak ada rencana mencabut blokade yang berdampak besar pada pasar global. Mereka menyatakan kontrol atas Hormuz tetap menjadi strategi utama Teheran, termasuk sebagai alat tekanan terhadap Amerika Serikat.
Situasi ini menegaskan bahwa meski komunikasi masih berlangsung di balik layar, jalan menuju kesepakatan antara Iran dan AS masih jauh dari kata terang. Ketegangan geopolitik di kawasan pun berpotensi terus berlanjut, terutama terkait kepentingan strategis di Selat Hormuz.