
Harga minyak mentah kembali meroket pada penutupan Jumat (6/3), di tengah keterbatasan pasokan dari Timur Tengah akibat penutupan Selat Hormuz dan meluasnya perang AS-Israel dengan Iran.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup pada USD 92,69 per barel, naik USD 7,28, atau 8,52 persen. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada USD 90,90 per barel, naik USD 9,89, atau 12,21 persen.
Hal tersebut merupakan kali kedua berturut-turut kenaikan harga minyak mentah berjangka AS melampaui kenaikan harga kontrak Brent. Sebab, para pembeli berupaya mencari alternatif pasokan di luar Timur Tengah.
“Para penyuling dan perusahaan perdagangan sedang mencari sumber minyak alternatif, dan AS adalah produsen terbesar. Untuk mencegah persediaan di AS berkurang terlalu cepat karena ekspor yang terlalu tinggi, selisih harga kembali ke biaya transportasi,” kata analis dari UBS, Giovanni Staunovo.
Bakal Tembus USD 100 per Barel
Menteri Energi Qatar memperkirakan semua produsen energi Teluk Persia akan menghentikan ekspor dalam beberapa minggu ke depan, sebuah langkah yang menurutnya dapat mendorong harga minyak hingga USD 150 per barel.
“Skenario terburuk sedang berkembang di depan mata kita. Saya pikir semua perkiraan harga minyak USD 100 per barel akan menjadi kenyataan,” kata mitra Again Capital, John Kilduff.
Harga minyak mulai melonjak tajam setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu lalu, yang mendorong Iran untuk menghentikan kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. Pasokan minyak yang setara dengan sekitar 20 persen dari permintaan dunia biasanya melewati jalur ini setiap hari.
Dengan penutupan selama 7 hari, berarti sekitar 140 juta barel minyak, setara dengan sekitar 1,4 hari permintaan global tidak dapat mencapai pasar. Konflik tersebut telah menyebar ke seluruh wilayah penghasil energi utama di Timur Tengah, mengganggu produksi dan memaksa penutupan kilang minyak dan pabrik gas alam cair.
AS Izinkan Impor Minyak Rusia, China Setop Ekspor
Presiden AS Donald Trump mengatakan dia tidak khawatir tentang kenaikan harga bensin di AS yang terkait dengan konflik tersebut. “Jika naik, ya naik saja,” katanya.
Namun, Kementerian Keuangan AS mengambil tindakan untuk memerangi kenaikan biaya BBM sempat mendorong harga turun lebih dari 1 persen pada Jumat pagi.
Pada Kamis, Kementerian Keuangan AS memberikan pengecualian bagi perusahaan membeli minyak Rusia yang dikenai sanksi. Pengecualian pertama diberikan kepada perusahaan kilang minyak India, yang sejak itu telah membeli jutaan barel minyak mentah Rusia.
Sementara itu, China telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan ekspor solar dan BBM imbas tersendatnya jalur distribusi akibat tutupnya Selat Hormuz akibat perang antara AS-Israel dengan Iran.
Dikutip dari Bloomberg pada Kamis (5/3), lembaga perencana ekonomi tertinggi di China, National Development and Reform Commission (NDRC), telah bertemu para petinggi kilang di China untuk membahas hal itu. Nantinya, penghentian ekspor sementara bakal segera berlaku.
NDRC meminta perusahaan kilang menghentikan penandatanganan kontrak baru terkait pengiriman solar dan bensin. Selain itu, perusahaan juga diminta untuk melakukan negosiasi terkait pembatalan pengiriman solar dan bensin yang sudah disepakati.
Meski demikian, terdapat pengecualian untuk bahan bakar jet yang sudah ada di gudang berikat serta pasokan bahan bakar untuk Hong Kong dan Makau.