Foto: Serangan Israel-AS ke Iran picu kekhawatiran konflik di Timur Tengah

Sejumlah wilayah di Iran menjadi sasaran serangan militer gabungan dari Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2). Operasi ini menargetkan instalasi militer dan dianggap sebagai serangan awal untuk melemahkan kemampuan militer serta potensi pengembangan nuklir Iran. Ledakan terdengar di Teheran dan kota-kota lain, memicu kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Advertisements

Menanggapi serangan tersebut, Iran langsung melancarkan serangan balasan ke beberapa target di wilayah Timur Tengah, termasuk pangkalan militer Amerika dan sasaran Israel. Pemimpin Iran menegaskan bahwa serangan itu merupakan pembelaan terhadap kedaulatan negara dan siap memberi respons tegas terhadap agresi.

Dampak serangan ini dirasakan langsung oleh warga Iran, yang berbondong-bondong mencari tempat aman dan mengantre di stasiun bensin akibat ketakutan meluasnya konflik. Beberapa negara tetangga, seperti Qatar, menutup ruang udara dan menghentikan penerbangan sementara sebagai langkah antisipatif, sementara produksi energi di beberapa wilayah juga ikut terdampak.

Reaksi global muncul dari berbagai negara. Prancis, Jerman, dan Britania Raya menyerukan de-eskalasi dan solusi diplomatik, sementara negara-negara Teluk mengkhawatirkan stabilitas regional akibat rudal yang melintasi wilayah mereka. Bahkan negara-negara di luar Timur Tengah meningkatkan pengamanan di lokasi-lokasi sensitif untuk mencegah risiko lanjutan.

Para pengamat menilai konflik ini bisa mengubah kondisi keamanan di Timur Tengah serta berdampak pada pasar energi global, termasuk potensi kenaikan harga dan gangguan distribusi di Selat Hormuz. Konflik yang terus berlangsung ini menunjukkan risiko ketidakstabilan regional sekaligus perhatian dunia terhadap tindakan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Advertisements

Advertisements