Jakarta, IDN Times – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, mendesak PBB lakukan investigasi yang menyebabkan gugurnya tiga prajurit TNI yang menjadi pasukan perdamaian di United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Penyelidikan itu harus berjalan cepat, transparan dan komprehensif. Pelaku penyerangan harus dimintai pertanggungjawaban secara hukum dan tidak diberi kekebalan.
“Serangan berulang terhadap personel Indonesia merupakan tindakan yang tak dapat diterima. Ini juga mencerminkan rendahnya komitmen terhadap jaminan keselamatan Pasukan Perdamaian oleh pihak yang bertikai,” ujar Djamari di dalam keterangan, Kamis (2/4/2026).
Pemerintah, kata Djamari, juga mendorong Dewan Keamanan PBB untuk bertindak tegas, bersatu dan konsisten dalam menindak lanjuti hasil penyelidikan demi menjamin keselamatan pasukan penjaga perdamaian.
Berdasarkan keterangan dari Kementerian Pertahanan, ada tiga prajurit TNI yang gugur dalam insiden pada 29 Maret dan 30 Maret 2026. Mereka diketahui adalah Kapten Inf Zulmi Aditya, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Fahrizal Rhomadhon.
1. Kemenko Polkam perkuat koordinasi lintas lembaga demi keselamatan prajurit
Lebih lanjut, purnawirawan jenderal bintang empat itu mengatakan, salah satu tugas Kemenko Polkam yakni memperkuat koordinasi dan sinergi lintas kementerian serta lembaga, khususnya Kementerian Pertahanan, TNI dan Kementerian Luar Negeri.
“Kami fokus memastikan keselamatan personel di daerah penugasan termasuk peninjauan ulang protokol keamanan yang disesuaikan dengan perkembangan situasi di wilayah konflik di Lebanon selatan,” ujar Djamari.
Mengutip situs resmi UNIFIL, prajurit penjaga perdamaian hanya boleh menggunakan senjata dalam sejumlah kondisi yakni untuk membela diri, melindungi sesama personel PBB, melindungi warga sipil langsung dari ancaman, dan menjamin kebebasan bergerak pasukan dan misi kemanusiaan.
2. Dewan Keamanan PBB ungkap hasil temuan awal sumber ledakan
Sementara, Kepala Pasukan Penjaga Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix mengungkap hasil awal temuan ledakan yang menyebabkan gugurnya dua prajurit TNI. Ia menyebut, kendaraan yang ditumpangi dua prajurit TNI hancur akibat ledakan dari benda yang ditanam di pinggir jalan. Alat tersebut terlihat menghancurkan kendaraan yang menjadi konvoi operasional UNIFIL.
“Serangan mematikan itu kemungkinan besar disebabkan oleh IED (improvised explosive device),” ujar Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, pada Selasa kemarin, dikutip dari stasiun berita BBC.
IED merupakan perangkat peledak yang dirakit dari bahan-bahan yang tersedia secara umum lalu digunakan untuk membunuh atau merusak target. Umumnya IED turut dilengkapi dengan sistem pemicu.
Dua prajurit TNI yang gugur pada Senin (30/3/2026) diketahui Kapten Inf Zulmi Aditya dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan. Sedangkan, Praka Fahrizal Rhomadhon gugur pada Minggu (29/3/2026) akibat terkena serangan artileri militer Israel.
3. Istana upayakan pemulangan tiga jenazah prajurit yang gugur
Sementara, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto agar ketiga jenazah prajurit TNI yang gugur dapat dipulangkan. Pemerintah juga sudah memberikan materi kepada prajurit yang masih bertugas di UNIFIL.
“Kami sudah memberikan briefing kepada pasukan dan prajurit di lapangan untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata Prasetyo di Jakarta pada Selasa (31/3/2026).
Selain tiga prajurit TNI yang gugur, ada pula lima prajurit lainnya yang terluka. Satu di antaranya mengalami luka kritis dan perlu dievakuasi menggunakan helikopter.
MPR Dorong Pemerintah Tarik Seluruh Prajurit TNI dari Misi UNIFIL Identitas 3 Prajurit TNI Gugur di Misi UNIFIL Keluarga Prajurit TNI yang Gugur di UNIFIL Dapat Santunan Rp1,8 M