
Indeks saham utama Thailand anjlok hingga 8 persen pada perdagangan Rabu (4/3) memicu penghentian sementara aktivitas perdagangan di bursa. Perang di Timur Tengah jadi sentimen yang menekan pasar Asia.
Perdagangan di Bursa Efek Thailand melalui indeks acuan SET Index dihentikan selama 30 menit mulai pukul 12:18 waktu setempat. Jika penurunan indeks berlanjut hingga mencapai 15 persen, perdagangan akan kembali dihentikan selama 30 menit.
Aksi jual besar-besaran juga melanda pasar saham Asia karena investor menghadapi ketidakpastian yang semakin besar terkait durasi dan dampak perang Iran. Thailand dinilai menjadi salah satu negara di kawasan yang paling rentan terhadap lonjakan harga minyak akibat konflik tersebut, mengingat tingginya ketergantungan negara itu pada impor energi.
“Kenaikan biaya energi secara langsung memicu kekhawatiran terhadap inflasi, tekanan pada neraca transaksi berjalan, serta penurunan margin perusahaan,” kata Head of Sales Trading Prime Brokerage Maybank Securities, Tareck Horchani, dikutip dari Bloomberg.

Selain itu, potensi gangguan terhadap jalur penerbangan juga dikhawatirkan dapat memukul sektor pariwisata Thailand yang menjadi salah satu penopang utama ekonomi negara tersebut.
Pasar saham Thailand juga terbebani aksi pelepasan saham terkait tema kecerdasan buatan (AI). Perusahaan seperti Delta Electronics Thailand Pcl menjadi salah satu penekan terbesar terhadap indeks.
Penurunan tajam ini secara efektif menghapus hampir seluruh kenaikan sekitar 14 persen yang sebelumnya terjadi setelah kemenangan telak Perdana Menteri Anutin Charnvirakul dalam pemilu bulan lalu. Dengan demikian, kenaikan indeks saham Thailand sepanjang tahun ini menyempit menjadi sekitar 7,1 persen.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sesi I turun 343,192 poin (4,32 persen) ke 7.596,57. Indeks LQ45 turun 33,738 poin (4,19 persen) ke 771,85.
Sebanyak 63 saham naik, 713 saham turun, dan 37 saham stagnan. Frekuensi saham ditransaksikan sebanyak 2.123.098 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 35,079 miliar saham senilai Rp 18,109 triliun.
Pelemahan juga terjadi di negara Asia lainnya, di antaranya Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 2.329,203 poin (4,14 persen) ke 53.949,898, Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 717,019 poin (2,78 persen) ke 25.051,060, Indeks SSE Composite di China turun 59,110 poin (1,43 persen) ke 4.063,570, dan Indeks Straits Times di Singapura turun 112,100 poin (2,28 persen) ke 4.804,549.