Warga di titik keberangkatan kapal dengan pasien hantavirus cemas kehilangan sumber pendapatan – “Situasi ini tidak adil”

Kepastian tentang awal mula infeksi hantavirus yang menyebabkan kematian penumpang kapal pesiar di Argentina belum terang-benderang. Namun warga di pulau paling ujung negara itu telah begitu cemas bahwa hantavirus akan mengambil sumber pendapatan mereka.

Advertisements

Kapal pesiar MV Hondius, Minggu (10/05), mencapai tujuan akhirnya, yaitu Tenerife, di Kepulauan Canary. Kapal ini awalnya tidak pernah berencana bersandar di tempat ini.

Tujuan akhir MV Hondius sebenarnya bukanlah Spanyol, melainkan Tanjung Verde di Afrika. Namun kasus hantavirus mengalihkan rute kapal ini, dipicu enam kasus hantavirus terkonfirmasi yang dialami penumpang MV Hondius, tiga di antaranya berujung meninggal.

Kapal MV Hondius memulai perjalanan mereka pada 1 April lalu di kota Ushuaia, Argentina. Kota ini berada di provinsi Tierra del Fuego.

Saat pertama kali berlayar, 114 penumpang dan 61 awak kapal dari 22 negara berada di atas kapal. Hantavirus diyakini dibawa oleh salah satu dari lebih dari satu dari mereka. Walau begitu, asal usul dan identitas mereka pembawanya belum jelas hingga berita ini ditayangkan.

Advertisements

“Di Tierra del Fuego, kami tidak memiliki catatan kasus hantavirus dalam sejarah kami,” kata Juan Facundo Petrina, Direktur Jenderal Epidemiologi dan Kesehatan Lingkungan di Kementerian Kesehatan di pemerintahan provinsi tersebut.

“Khususnya sejak tahun 1996, ketika Sistem Pengawasan Nasional memasukkan virus ini ke dalam daftar pelaporan wajib, kami belum pernah menerima satu pun pemberitahuan terkaitnya di Tierra del Fuego,” kata Petrina.

Petrina dalam beberapa hari terakhir telah berulang kali menekankan fakta ini. Dia mengutarakannya dalam setiap konferensi pers dan wawancara dengan media massa.

Petrina menyampaikan hal ini pula kepada BBC News Mundo, Sabtu (10/05).

Menurut ahli epidemiologi ini, provinsinya memiliki peluang terendah untuk menjadi sumber wabah hantavirus. Alasannya, zona endemik penyakit ini berada lebih dari 1.500 kilometer ke utara.

“Pertama-tama, kami tidak memiliki subspesies tikus padi kerdil berekor panjang (yang menularkan penyakit ini) maupun karakteristik iklim yang sama dengan Patagonia utara—baik kelembapan maupun suhu—yang diperlukan untuk perkembangannya,” kata Petrina.

“Dan jika hewan pengerat itu mulai bergerak, karena mereka tidak menghormati batas geografis, kita harus ingat bahwa Tierra del Fuego adalah sebuah pulau.

“Hewan itu memiliki keterbatasan untuk dapat menyeberangi Selat Magellan, untuk kemudian menginfeksi spesies lokal. Jadi itu adalah faktor kesulitan lain, di luar kesulitan iklim,” ujarnya.

Baca juga:

  • Kasus hantavirus terdeteksi di Indonesia, seberapa berbahaya?
  • Berpacu dengan waktu melacak para awak dan penumpang kapal pesiar yang terdampak hantavirus
  • Kisah dua pria yang selamat dari hantavirus – ‘Rasanya seperti siksa neraka’

Eduardo López, epidemiolog sekaligus Kepala Departemen Kedokteran dan Penyakit Menular di Rumah Sakit Anak Ricardo Gutiérrez di Buenos Aires, memiliki pendapat yang sama.

Menurutnya, kecil kemungkinan infeksi hantavirus terjadi di Tierra del Fuego. Dia berkata, penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk memperkuat argumentasi ini.

“Kasus ini memerlukan studi lebih lanjut karena adanya perubahan ekosistem, misalnya, tikus berekor panjang, yang habitat aslinya adalah pegunungan Patagonia dan Argentina barat laut, kini dapat ditemukan di Provinsi Buenos Aires bersama dengan hewan pengerat lain yang menularkan penyakit tersebut,” ujarnya.

Tempat pembuangan sampah

Dalam beberapa hari terakhir, pendapat bahwa beberapa penumpang MV Hondius tertular virus di tempat pembuangan sampah di pinggiran Ushuaia telah menjadi perbincangan hangat di media nasional dan internasional.

Para turis pergi ke tempat itu untuk mengamati burung. Adapun sampah di lokasi itu menarik tikus dan mencit.

Argumentasi tersebut tidak diterima dengan baik oleh sebagian kalangan di Tierra del Fuego.

“Hipotesis bahwa infeksi terjadi setelah turis terlihat di dekat tempat pembuangan sampah, bagi kami, paling tidak mungkin,” kata Petrina.

“Alasannya, hewan pengerat yang mungkin ditemukan di tempat pembuangan sampah adalah hewan pengerat perkotaan. Hewan pengerat yang kita bicarakan sebagai reservoir alami virus di Patagonia adalah hewan pengerat liar,” ujarnya.

Serupa dengan Petrina, epidemiolog Eduardo López enggan menganggap serius hipotesis yang menyebar di media sosial itu.

Kementerian Kesehatan Nasional di provinsi itu juga memilih untuk tidak ikut campur dalam diskusi yang liar di media sosial.

“Pada prinsipnya, kami tidak dapat mengesampingkan kemungkinan infeksi terjadi di Tierra del Fuego,” tulis mereka dalam sebuah pernyataan.

“Namun ada fakta penting yang perlu dipertimbangkan: sejak hantavirus menjadi penyakit yang wajib dilaporkan, belum pernah ada kasus yang dilaporkan di provinsi ini,” demikian tanggapan resmi mereka.

BBC News Mundo telah mengunjungi tempat pembuangan sampah yang disebut penduduk setempat sering didatangi burung. Selain puluhan burung yang terbang di atas sampah, kami tidak dapat mengamati apa pun yang akan bisa menarik turis datang ke tempat yang begitu busuk dan menjijikkan tersebut.

Pekan lalu, pemerintah pusat Argentina mengumumkan pengerahan tim ahli ke provinsi Tierra del Fuego. Tujuannya, untuk menentukan apakah ada jejak hantavirus di provinsi itu dan memastikan apakah tikus padi kerdil berekor panjang yang menularkannya telah muncul di wilayah tersebut.

“Kami sedang mempertimbangkan berbagai tanggal untuk menyelesaikannya secepat mungkin, bekerja sama dengan ahli biologi lokal untuk menemukan lokasi terbaik untuk menjebak,” kata epidemiolog di lembaga itu.

“Kami belum memiliki tanggal pasti, tapi kami sudah mengerjakan logistiknya,” tuturnya.

Kementerian Kesehatan Argentina menginformasikan BBC Mundo tim tersebut kemungkinan akan berangkat ke Tierra del Fuego jelang akhir minggu depan.

Bagi Teresa Strella, epidemiolog yang bertanggung jawab mengelola wabah hantavirus di kota Epuyén, Patagonia, lokasinya sangat penting karena mencatat 34 kasus positif dan 11 kematian akibat virus ini.

“Pengambilan sampel lapangan akan membantu menyingkirkan kemungkinan sirkulasi virus dan meyakinkan penduduk setempat dan masyarakat umum, dalam konteks wabah internasional, dan bagi setiap wisatawan yang memilih destinasi tersebut untuk berwisata.”

Aspek ini sangat penting, menurutnya, tidak hanya dari dimensi ilmiahnya, tapi juga dari dimensi ekonominya.

Petrina mengakui bahwa ketidakmampuan untuk mengklarifikasi apakah penumpang MV Hondius tertular virus di provinsi tersebut dapat memengaruhi turis ketika memilih Tierra del Fuego sebagai tujuan wisata. Inilah yang dianggap “tidak adil” oleh Petrina.

Industri pariwisata dicemaskan bakal terpukul

Tierra del Fuego adalah provinsi termuda di Argentina, yang dibentuk pada April 1990. Jumlah penduduk provinsi ini adalah yang paling sedikit di negara tersebut.

Menurut laporan pemerintah Argentina tahun 2021, kegiatan ekonomi utama di provinsi itu adalah industri dan perdagangan.

Sumber utama devisa mereka adalah ekstraksi hidrokarbon dan perikanan. Pariwisata berada di urutan kedua setelah kedua kegiatan tersebut.

Juan Manuel Pavlov, Sekretaris Kebijakan Luar Negeri di Institut Pariwisata Fuegian, menyebut pelabuhan Ushuaia, tempat MV Hondius berangkat, merupakan kunci bagi industri ini.

“Kami adalah gerbang menuju Antartika; lebih dari 95% kapal pesiar yang singgah di pelabuhan kami berangkat dari sini. Dengan lebih dari 500 kunjungan per tahun, industri kapal pesiar sangat penting bagi perekonomian provinsi,” tuturnya.

Pavlov berkata, meskipun mereka telah menerima banyak pertanyaan dari operator tur internasional, mereka belum secara resmi mengalami pembatalan perjalanan wisata ke provinsi tersebut.

Namun, mengingat musim kapal pesiar telah berakhir pada pertengahan April lalu, butuh beberapa bulan untuk mengetahui apakah wabah hantavirus akan memengaruhi industri pariwisata di Tierra del Fuego.

Adapun sebagian pejabat setempat meyakini dampak peristiwa kematian akibat hantavirus akan dirasakan lebih cepat oleh masyarakat lokal.

“Kami memiliki musim dingin yang akan segera datang, yang kami harapkan berjalan mulus. Kami telah bekerja sangat keras di pasar utama, jadi kami tidak ingin hal seperti ini menodai semua pekerjaan yang telah kami lakukan, yaitu selalu memprioritaskan kesehatan masyarakat,” demikian pernyataan resmi mereka.

Di Pelabuhan Ushuaia, Provinsi Tierra del Fuego, para turis terlihat berjalan-jalan seperti biasa. Mereka berkumpul untuk perjalanan di atas perahu yang singkat, seperti ke Isla de los Estados, rumah bagi mercusuar terkenal di ujung dunia, atau tur klasik Selat Beagle.

Adonis Carvajal, yang bekerja untuk operator tur dan pelayaran di area pelabuhan itu, bilang bahwa kepastian kasus infeksi hantavirus tidak terjadi di Tierra del Fuego adalah jaminan terbesar keberlanjutan industri pariwisata di wilayah itu.

“Orang-orang banyak bertanya, apakah ada kasus di provinsi ini,” ujarnya.

“Fakta bahwa tidak ada laporan orang sakit di sini sangat meyakinkan. Tidak adanya kasus menunjukkan bahwa mungkin virus itu berasal dari selatan, tidak berasal dari sini, mungkin dari provinsi lain di Argentina atau dari Chili.”

‘Ibu saya mulai mengirimkan semua berita kepada saya’

David Bompart dan Daniela Sandoval, pasangan Venezuela yang tinggal di Medellín, Kolombia, berjalan di sepanjang tepi laut Ushuaia. Mereka tiba di ibu kota Tierra del Fuego beberapa hari yang lalu.

Akhir pekan lalu mereka mengunjungi mercusuar di perairan provinsi itu. Mereka tengah berencana mengunjungi lokasi wisata lainnya di Tierra del Fuego.

“Kami merencanakan perjalanan ini Oktober 2025 dan baru sehari sebelum naik pesawat kami mengetahui apa yang terjadi dengan kapal pesiar itu,” kata David.

BBC Mundo bertanya kepadanya apakah dia ragu atau berpikir ulang, tapi dia menjawab tidak.

“Sejauh yang kami pahami, tidak ada yang dikonfirmasi di sini, jadi kami datang dengan tenang, menghormati langkah-langkah keamanan.”

Namun yang merasa tidak tenang adalah pasangan ibunda Daniela.

“Dia mulai mengirimkan banyak video Instagram Reels berisi berita dan tautan ke situs berita yang menerbitkannya,” kata David.

“Dia khawatir dan menghabiskan sepanjang malam mengirimkan tautan berisi informasi. Saya mengatakan kepadanya untuk tidak cemas karena tidak ada kasus yang dikonfirmasi di sini,” tuturnya.

Di samping papan tanda yang menyambut pengunjung ke kota, turis asal Kosta Rika, Jordan Bermúdez, menceritakan pengalamannya dan kelompoknya sejauh ini.

“Kami datang, kami melihat kota itu cukup tenang, kami melakukan semua tur yang telah kami rencanakan, dan kami pikir semuanya normal,” ujarnya.

Jordan, tiba di Ushuaia pada 5 Mei dari Punta Arenas, Chili. Dia mengakui bahwa mereka telah melakukan riset sebelumnya tentang virus tersebut, tapi itu tidak menghentikan mereka dari liburan mereka.

Hipotesis yang berperan

Pemerintah Argentina baru-baru ini memaparkan perjalanan pasangan turis asal Belanda yang meninggal di MV Hondius. Mereka berkelana di Argentina, Chili, dan Uruguay, sebelum menaiki kapal pesiar di Ushuaia.

Berdasarkan deskripsi perjalanan pasangan ini, Argentina menyimpulkan bahwa rencana perjalanan tersebut perlu direkonstruksi, terutama dari catatan masuk dan keluar mereka di perbatasan.

Kementerian Kesehatan Chile dan Uruguay melaporkan bahwa pasangan tersebut tidak tertular virus di negara mereka. Pernyataan itu diklaim berdasarkan perhitungan masa inkubasi, yang menurut WHO, dapat berkisar antara satu hingga delapan minggu.

Kementerian Kesehatan Argentina menyatakan “sulit untuk menentukan di mana infeksi mungkin terjadi, terutama karena informasi yang kami miliki tentang rute yang ditempuh oleh pasien nol dan pasangannya cukup terbatas.”

“Kami mengetahui jalur masuk dan keluar negara tersebut dan bahwa banyak perpindahan dilakukan melalui kendaraan darat, tetapi kami tidak memiliki detail perjalanan tersebut: tanggal pasti akomodasi, kunjungan, kontak,” demikian pernyataan lembaga resmi tersebut.

Ushuaia kini tengah bersiap menghadapi musim dingin.

Juan Facundo Petrina meyakini ada tiga hipotesis yang memungkinkan Tierra del Fuego menjadi tempat infeksi yang paling kecil kemungkinannya.

Bagi ahli epidemiologi tersebut, kemungkinan infeksi di Chili, pilihan kedua, juga tidak mungkin karena akan membutuhkan masa inkubasi yang sangat panjang.

Jadi, menurutnya, hipotesis mana yang paling mungkin?

“Yang paling mungkin adalah bahwa selama berada di Argentina, sekitar dua hingga empat minggu sebelum pelayaran, mereka mungkin telah terpapar virus di daerah pegunungan yang dihuni oleh hewan pengerat, yang merupakan reservoir penyakit tersebut, seperti provinsi Patagonia Chubut, Neuquén, dan Río Negro.”

Menurut epidemiolog Teresa Strella, penting untuk menganalisis garis waktu dan pergerakan pasangan tersebut, karena masa inkubasi virus ini mencapai hingga 45 hari menurut bukti ilmiah, dengan rata-rata 14 hingga 21 hari:

“Merujuk informasi yang dikeluarkan oleh WHO, kasus nol mulai menunjukkan gejala pada tanggal 6 April. Oleh karena itu, dalam investigasi epidemiologi, penting untuk mengidentifikasi aktivitas dan tempat paparan selama bulan Maret, dengan mempertimbangkan masa inkubasi maksimum yang dijelaskan.”

Kematian kedua individu—di kapal pesiar dan di rumah sakit di Johannesburg, Afrika Selatan—membuat sangat sulit untuk merekonstruksi di mana mereka berada selama periode tersebut.

Mungkin evakuasi penumpang dan awak kapal MV Hondius, yang dimulai Minggu ini di Tenerife, Spanyol, akan memberikan beberapa petunjuk dalam waktu dekat.

Baca artikel lainnya terkait hantavirus:

  • Hantavirus kemungkinan menyebar antarpenumpang di kapal pesiar, kata WHO
  • Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bukan awal pandemi, kata WHO
  • Apa itu galur Andes hantavirus yang mewabah di sebuah kapal pesiar?
Advertisements