‘Saya tidak pernah kesepian lagi’ – Para perempuan yang memilih hidup bersama di usia lanjut

“Bukan karena saya tidak menyukai pria,” kata Pat Dunn, yang pada usia lanjut memilih tinggal di komunitas khusus perempuan di Ontario, Kanada.

Advertisements

“Tapi saya ingin berada di sekitar teman-teman perempuan dan mendapat dukungan dari perempuan lain. Meskipun awalnya karena putus asa, kini saya sangat senang melakukannya.”

Dunn, seorang pensiunan perawat, adalah satu dari sekian banyak perempuan yang memilih hidup dengan sejumlah perempuan lain pada usia lanjut.

Cara hidup ini—yang menawarkan kebersamaan, dukungan, dan rasa aman—juga dikenal dengan istilah connected living. Para penghuninya menjalani kehidupan sehari-hari bersama di “ruang aman”, bukan sekadar berbagi tempat tinggal.

Dunn mulai menjajaki kehidupan bersama sejumlah perempuan lain setelah suaminya meninggal dunia dan biaya sewa terus meningkat.

Advertisements

“Tidak ada tempat yang memungkinkan saya bisa tinggal sendiri,” katanya. “Saya takut. Uang saya cepat sekali habis.”

Dalam duka dan kekhawatiran, ia teringat The Golden Girls, serial televisi Amerika tentang perempuan-perempuan lanjut usia yang berbagi rumah.

Dunn kemudian memutuskan membuat grup Facebook untuk menemukan orang lain dengan situasi serupa.

Dunn semula memperkirakan hanya segelintir perempuan yang akan bergabung. Namun, di luar dugaannya, ada 50 orang bergabung di grup tersebut dalam pekan pertama.

Jumlah anggota bahkan mencapai 200 orang pada akhir bulan pertama.

Sebagian berbagi kisah memilukan. Ada yang hidup di mobil atau menghadapi kemiskinan seorang diri.

“Di sisa hidup ini, saya akan membantu perempuan-perempuan itu,” katanya.

Inisiatif ini berkembang menjadi organisasi nirlaba Senior Women Living Together.

Organisasi tersebut membantu perempuan di Ontario menemukan orang lain untuk berbagi rumah. Kini, organisasi tersebut dan telah berkembang menjadi ribuan anggota.

Baca juga:

  • Kisah para caregiver keluarga – ‘Mereka yang paling berjasa dalam diam’
  • Pengakuan para perempuan yang menyesal punya anak
  • Kisah para kuli perempuan di Bali – Mengangkut pasir, memasak, hingga mengasuh anak

Dunn kini tinggal bersama dua perempuan yang tidak ia kenal sebelum memulai grup tersebut. Yang satu hidup sendiri hampir sepanjang hidupnya, yang lain pernah menikah beberapa kali tetapi tidak memiliki anak.

Dunn perlu waktu menyesuaikan diri lantaran dirinya tak pernah tinggal dengan siapa pun selain keluarga.

“Perlu empat hingga enam bulan bagi kami semua hanya untuk menyelesaikan hal-hal kecil,” katanya.

“Kami harus jujur dan membicarakannya,” tambahnya.

Alih-alih memasangkan satu perempuan dengan perempuan lain, organisasi itu menjadi tempat untuk saling terhubung dan menyediakan platform serta panduan tentang kehidupan sehari-hari: memasak, membersihkan rumah, membayar sewa, menjaga batasan, dan merencanakan penuaan bersama, termasuk menghadapi penyakit atau pindah ke panti wreda.

Hidup bersama dengan perempuan-perempuan lain di berbagai negara

Di Finlandia, Hanne Nutenen ikut mendirikan La Joie Homebase, yang menawarkan ruang hunian bersama bagi perempuan, sering kali untuk sementara.

Pendekatan Nutenen berangkat dari pengalamannya sebagai ibu tunggal yang tinggal dan bekerja di tiga negara. Ia menginginkan dukungan harian dan pengalaman bersama.

“Biasanya mulai usia 50 tahun ke atas. Umumnya pada usia itu kita telah mengalami kehidupan dan membentuk diri, serta tahu apa yang kita inginkan dan siapa diri kita. Kita ingin menjadi diri kita yang kita inginkan,” katanya.

Baca juga:

  • ‘Saya tidak tinggal serumah bersama suami saya selama 15 tahun’ – Kisah pasangan yang memutuskan hidup terpisah
  • Kisah ‘pengasuh miliuner’ – ‘Saya disuruh pergi mendadak, ambil Ferrari di Prancis’
  • ‘Saya meminta suami menerima orang lain dalam pernikahan kami’ – Apa itu hubungan seksual terbuka?

La Joie Homebase bermula di Prancis selatan dan kini beroperasi di Italia, Spanyol, dan Maroko. Perusahaan itu menawarkan periode hunian sementara dari beberapa pekan hingga beberapa bulan, alih-alih hunian permanen.

“Ini bisnis yang besar. Dalam beberapa dekade ke depan, akan ada 2,1 miliar orang berusia di atas 60 tahun. Di seluruh dunia, perempuan memiliki minat yang serupa pada fase kehidupan ini. Ini sangat berkaitan dengan ekonomi usia panjang,” papar Nutenen.

Kelompok-kelompok penghuni berukuran kecil, dan para penghuni dipandu mengenai aturan komunitas melalui pertemuan daring sebelum mereka datang.

Seorang tuan rumah membantu menjaga suasana dan menyelesaikan konflik. Para penghuni memiliki kamar pribadi, tetapi berbagi kehidupan sehari-hari, termasuk memasak, membersihkan rumah, dan beraktivitas.

Baik Dunn maupun Nutenen menekankan bahwa komunitas mereka ditujukan bagi perempuan yang mampu merawat diri sendiri, bukan yang memerlukan hunian dengan perawat atau asisten rumah tangga.

Dunn menggambarkan modelnya sebagai “lebih berkesengajaan”, dengan tujuan bersama dan kesepakatan.

Nutenen mengatakan konsep yang diusungnya adalah berbagi kehidupan, bukan sekadar berbagi bangunan, dalam lingkungan yang aman.

“Penghuni merasa berada di tempat yang aman secara mental dan fisik. Dan keberadaan perempuan-perempuan lain di sekitar sungguh luar biasa, karena penghuni berada di antara teman-teman.”

Penawaran dan permintaan

Anak-anak Dunn telah berusia dewasa. Mereka mendukung keputusan sang ibu, meskipun menurut Dunn ada anak yang khawatir, terutama jika Dunn pindah jauh.

Nutenen mengatakan putri remajanya sesekali menginap di rumah-rumah itu saat acara keluarga, dan melihat langsung bahwa tempat-tempat tersebut aman dan saling mendukung.

Permintaan akan hunian bersama sangat besar.

Dunn mengatakan bahwa di Ontario saja, terdapat setidaknya 150.000 perempuan lansia yang hidup sendiri dalam kemiskinan.

Secara global, jumlah orang berusia di atas 60 tahun diproyeksikan meningkat tajam, dan mayoritasnya adalah perempuan.

Dunn mengatakan para politisi, pengembang, dan pemilik properti semakin tertarik pada komunitas semacam ini sebagai solusi hunian yang praktis dan berbiaya rendah.

“Kami solusi yang sangat murah bagi mereka,” kata Dunn.

Dunn dan Nutenen mengatakan pengalaman ini telah mengubah hidup mereka sendiri.

Nutenen mengatakan hunian bersama memungkinkannya hidup lintas negara, bekerja di berbagai negara, dan merangkul beragam budaya.

Dunn mengatakan hunian bersama memberinya rasa aman dan kebersamaan setelah masa duka dan kesepian.

“Saya berubah dari yang sangat … takut bahwa saya akan menjadi tunawisma menjadi memiliki rumah yang aman bersama perempuan-perempuan luar biasa,” katanya.

“Saya berubah dari kesepian 24 jam sehari menjadi tidak pernah kesepian lagi.”

Komunitas-komunitas ini menawarkan visi berbeda tentang kehidupan di usia lanjut: yang dibangun atas pilihan, keterhubungan, dan dukungan bersama di antara perempuan-perempuan yang menapaki fase kehidupan yang serupa.

Berdasarkan sebuah episode The Conversation di BBC World Service dengan reportase tambahan oleh BBC Global Journalism.

  • Kisah sekelompok orang bisa punya rumah di Menteng Jakarta seharga di bawah Rp1 miliar
  • Perempuan yang ‘mengubah jalan hidup’ dari tunawisma menjadi ilmuwan ternama
  • Kisah perempuan yang lahir tanpa rahim – ‘Sahabat saya mengandung anak saya’
Advertisements