
Harga rata-rata bensin di Amerika Serikat (AS) menembus level USD 3 atau sekitar Rp 50.604 (kurs Rp 16.868 per dolar AS) per galon atau 3,785 liter di tengah memanasnya konflik Israel-AS serang Iran. Angka itu merupakan level tertinggi sejak November lalu.
Dikutip dari Reuters pada Selasa (3/3), level harga bensin yang terus meningkat bisa menjadi faktor penting terkait tingkat dukungan publik AS terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump dalam menyerang Iran.
“Harga bensin memiliki dampak psikologis yang kuat. Itu adalah angka inflasi yang dilihat konsumen setiap hari,” kata Mark Malek, kepala investasi di Siebert Financial.
Hampir separuh responden dalam jajak pendapat yang dilakukan Reuters mengatakan kemungkinan masyarakat dalam mendukung serangan AS terhadap Iran akan melemah jika harga minyak dan bensin di AS terus naik.
Para analis memperkirakan setiap kenaikan USD 10 per barel pada harga minyak mentah akan mendorong kenaikan sekitar 25 sen per galon di tingkat SPBU di AS. Gangguan di kilang minyak juga bisa menyebabkan lonjakan harga yang lebih tinggi.
Harga bensin di AS tersebut juga diperkirakan masih bisa naik hingga USD 3,25 per galon pada pekan ini akibat krisis yang sedang berlangsung.
“Dalam sepekan ke depan, harga bensin kemungkinan akan menghadapi tekanan kenaikan yang lebih besar seiring tren musiman berlanjut dan pasar berupaya menavigasi dinamika geopolitik yang terus berkembang,” ujar analis dari GasBuddy, Patrick De Haan.
Sebelum serangan terhadap Iran terjadi, harga bensin di AS sebenarnya sudah naik selama empat minggu berturut-turut. Berdasarkan data GasBuddy, kenaikan ini terjadi karena kilang mulai beralih ke produksi bensin musim panas di mana terdapat regulasi lingkungan dan biaya produksinya lebih mahal.
Serangan balasan Iran atas serangan AS dan Israel telah mengganggu pasokan minyak global. Iran dilaporkan telah menyerang fasilitas produksi di negara-negara tetangga serta kapal-kapal di Selat Hormuz. Harga minyak mentah pun ikut melonjak dengan minyak mentah Brent naik lebih dari 5 persen menjadi hampir USD 77 per barel.