Penutupan Selat Hormuz bisa ganggu harga 20 persen pasokan minyak global

Langkah Iran menutup Selat Hormuz berpotensi mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak harian dunia dan memicu lonjakan harga minyak global.

Advertisements

Mengutip Reuters, jalur ekspor minyak terpenting yang menghubungkan produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab ke pasar global, itu telah ditutup sejak adanya serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, termasuk Qatar, Kuwait, dan Bahrain, serta menargetkan Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman. Langkah ini menandai realisasi ancaman lama Teheran untuk memblokir jalur strategis tersebut jika diserang.

Iran juga menyatakan akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz setelah secara resmi menutup jalur tersebut. “Selat (Hormuz) tertutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu,” kata Seorang pejabat senior Garda Revolusi, Ebrahim Jabari, dikutip dari Reuters, Selasa (3/3).

Rusia: Pasokan Minyak Akan Macet

Advertisements

Kementerian Luar Negeri Rusia mengungkap penutupan Selat Hormuz akan menyebabkan ketidakseimbangan yang signifikan di pasar minyak dan gas global.

Terlebih sejak Sabtu (28/2) lalu, beberapa pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan rumah perdagangan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair melalui Selat Hormuz.

Sementara, sekitar 20 persen dari produksi minyak global, termasuk dari produsen seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran, melewati Selat Hormuz bersama dengan sejumlah besar gas alam cair dari Qatar.

Armada Kontainer Global Terjebak Macet di Selat Hormuz

CEO perusahaan pengangkut kontainer Ocean Network Express (ONE) Jeremy Nixon mengungkap ada 100 kapal dari 750 kontainer global yang terjebak dalam kemacetan di Selat Hormuz usai adanya serangan AS dan israel terhadap Iran.

“Sekitar 10 persen dari armada kapal kontainer global terjebak dalam masalah ini,” kata Nixon pada konferensi pengiriman kontainer TPM26 S&P Global Market Intelligence di Long Beach, dikutip dari Reuters, Selasa (3/3).

Dia juga mengungkap perusahaan asuransi maritim telah menghentikan pelayaran melalui selat antara Iran dan Oman tersebut. “Semua kargo itu akan mulai menumpuk di pusat-pusat pengiriman dan pelabuhan-pelabuhan utama di Eropa dan Asia, kata Nixon.

ONE dan perusahaan pengangkut kontainer saingannya seperti pemimpin industri MSC telah berhenti memesan kargo ke Timur Tengah, kata Nixon, yang pada 1 Juli akan mengundurkan diri sebagai CEO ONE.

Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan akan menyebabkan harga minyak melonjak. “Itu akan menciptakan lonjakan energi yang besar,” kata Nixon.

Advertisements